Memuat Konten
Silakan tunggu sebentar konten sedang dimuat....

Bahaya terlalu sering berbagi kehidupan pribadi di medsos

Bahaya sosial media

Hei Loh tau nggak, media sosial bikin kita ngeshare apapun lebih gampang. Apapun bisa kita share, mulai dari perihal diare, berita perceraian, sampai semua jenis kisah kehidupan bisa kita share.

Nih Gue ambil cerita dari temen abang gue " sembilan tahun yang lalu ketika temen abang gue sudah bercerai dan dia sangat membutuhkan dukungan emosional. Akhirnya dia membagikan kisah nya ke teman-teman lama lewat media sosial."

Celakanya pada waktu itu temen abang gue belum juga jago bermain facebook. Pada masa itu sih ada orang yang menelpon, dia fikir bakalan memberi dukungan terhadap permasalahanya. Tapi ternyata orang tersebut justru memberitahu teman abang gue kalau chat pribadi dan publik post itu adalah dua hal yang berbeda.

Dan seketika itu temen abang gue sadar bahwa dia barusan memposting tentang detail perceraian nya di ruang publik yang bisa diakses oleh semua orang, aloh-alih mendapat dukungan emosional, akhirnya jadi semakin stres.

Ya memang sih mencari teman curhat di masa-masa sulit itu memang sehat, dan media sosial bisa mempermudah kita mencari bantuan emosional walau hanya sekedar curhat.

Dalam sebuah penelitian Pew Research pengguna facebook mendapatkan dukungan sosial dan emosional dari pengguna lainya yang sama-sama menggunakan aplikasi facebook.

Bahkan dalam sebuah laporannya menyatakan seseorang bisa menggunakan facebook lebih dari satu kali dalam sehari. Dan bisa menerima lebih banyak dukungan emosional dibanding orang yang sudah menikah atau udah punya keluarga tersendiri.

Bedanya facebook gak sembarang tempat kita bisa meletakkan isi hati atau bersuara hanya pada tempatnya. Media sosial punya tempat masing-masing untuk mendapatkan dukungan atau sekedar respon orang terhadap kegiatan apa yang kita lakukan.

Apa yang kita bagikan dan respon orang-orang yang berada di social media juga bisa mempengaruhi emosional yang kita alami.

Contohnya ketika kita memposting tentang pengalaman buruk atau baik di dunia maya misalnya di facebook atau instagram mekah kita bisa menerima respon yang bisa menurunkan atau justru sebaliknya meningkatkan rasa stres.

Dalam Sebuah penelitian Department Of Communication di Cniversity of cincinnanti menjelaskan bahwa komentar para netizen bisa membantu memposisikan atau menilai tentang pengalaman seseorang, baik pengalaman buruk ataupun pengalaman yang baik. Interaksi ini dapat membantu orang yang mengalaminya pulih dari emosional.

Meskipun demikian komentar tersebut juga mendorong mereka untuk selalu memikirkan peristiwa yang tidak menyenangkan menjadi lebih parah lagi. Misalnya ketika mendapat respon yang buruk.

Baru-baru ini ada istilah dengan kata penyelam trending di facebook, hal ini membuat respon orang menjadi berbeda. Pada masa lampau sesuatu yang kita anggap keren itu bisa dibilang wow gitu.

Namun semakin hari kenangan-kenangan masa lalu mendapatkan respon yang berbeda dari pengguna sosial media. Postingan masa lampau justru dijadikan sebagai bahan lelucon.

Hal seperti ini tentu saja bisa membuat orang yang mengalaminya berada pada level emosional yang tinggi bisa memicu rasa stres atau hal lain yang bisa mengganggu pola pikir seseorang menjadi tidak menyenangkan.

Orang bilang kalau mereka yang selalu mempublikasikan kehidupannya di social media itu adalah orang yang cenderung kesepian. Sehingga dia lebih tertarik untuk bermain sosial media dibandingkan mencari teman di dunia real.

Terlalu banyak menggunakan sosial media juga tidak baik untuk kesehatan, sebab dengan adanya platform yang bisa membuat kita berinteraksi dengan mudah antara sesama manusia lain atau sebut juga bersosialisasi.

Mampu membuat kita menjadi lebih betah sendiri dan tidak pernah mengenal banyak orang di dunia luas bahkan tidak mempunyai teman sama sekali.

Masalah pribadi juga tidak baik terlalu diungkapkan ke ranah publik, aku pernah melihat orang yang data pribadi mereka yang terbongkar ke dunia publik.

Misalnya seperti kasus tahun lalu ya ada Nurul Hidayah, Lifana, Anak pak RT, Parakan, Rumah betang dan sebagainya mereka adalah korban dari pengaruh canggihnya teknologi sosial media. Salah mereka tidak malu memberikan sesuatu yang tidak pantas.

Mungkin dalam pikiran mereka semua orang akan merasa senang ketika melihat sesuatu yang cukup aneh gitu. Dan setelah mereka mencoba ternyata apa yang mereka pikirkan itu justru membuat malu diri mereka sendiri.